Search
Title    
Rubric  
       
Login
User    
Password   

Register New Member

Forgot Password ?

  Menu
 
         
  hacked by R-S-D  
 
EVALUASI STRUKTUR DAN FUNGSI JANTUNG. HUBUNGANNYA DENGAN LATIHAN FISIK DAN G-FORCE
Author : Dolly R. D Kaunang,
Senin, 06 Agustus 2007 00:00:00
 
Bagian Kardiologi FKUI/RSJHK
 
Dalam melakukan penerbangan akan mengalami perubahan velocity per satuan waktu misalnya karena gaya tarik bumi sebesar kira-kira 9,8 m/dt tiap detik (=1G). Dan oleh karena itu, terutama para penerbang akan mengalami suatu inersia (=gaya, reactive force) yang arahnya berlawanan dengan arah akselerasi dalam penerbangan tersebut. Terhadap tubuh manusia reaksi ini disebut gravitoinertial force (G-force). Telah lama diketahui bahwa latihan aerobik yang intensif dalam kurun waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada sistem kardiovaskuler berupa perubahan struktural dan perubahan fungsional. Perubahan struktural dapat berupa : hipertropi ventrikel kiri yang konsentrik, eksentrik, atau kedua-duanya. Paling sering hipertrofi eksentrik. Perubahan fungsional dapat berupa penurunan denyut jantung per menit dan penurunan tekanan darah. Menjadi masalah ialah apakah perbedaan struktur dan fungsi jantung ini menyebabkan pula perbedaan kemampuan toleransi G-force? Sehingga dapat pula timbul pertanyaan menyusul: apakah latihan aerobik yang intens bukan merupakan persiapan yang terbaik menjadi seorang penerbang karena dapat menurunkan kemampuan toleransi G-force? Telah diteliti 84 orang laki-laki, 21-26 tahun, yang baru selesai menjalani pendidikan militer perwira selama 3 tahun dan selama itu telah mengalami latihan lari aerobik rata-rata 20 mil per minggu, frekuensi 4-5 kali per minggu. Secara ekokardiografi, terdapat 24 subyek (28%) hipertrofi ventrikel kiri, terdiri dari : 2 subyek (2,3%) LVH konsentrik dengan DSH, 3 subyek (3%) LVK konsentrik tanpa DSH, 9 subyek (10,7%) LVH eksentrik dilatasi, 10 subyek (12%) LVH eksentrik non dilatasi. Hasil uji G-force dengan menggunakan human centrifuge, sebagian besar subyek (92%) dapat melampaui standar toleransi+4Gz (mean=4,29 Gz, SD=0,43), hanya 7 subyek (8%) yang tak dapat melampaui batas toleransi. Semua variabel struktur jantung tersebut dan variabel fungsi jantung: fraksi ejeksi, indeks kardiak, tekanan darah dan frekuensi denyut jantung per menit, termasuk tingkat kesegaran jasmani dan tingkat kecemasan, dinyatakan sebagai prediktor (faktor independen) terhadap toleransi G sebagai outcome variabel (dependen). Hasil uji statistik secara univariat dan multivariat tidak diperoleh satupun variabel yang berhubungan bermakna (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa perbdaan struktur dan fungsi jantung pada individu terlatih aerobik tidak menyebabkan pula perbedaan kemampuan toleransi G-force. Namun demikian, disarankan agar dalam berlatih aerobik sebagai persiapan menjadi penerbang tidak perlu sampai mengalami hipertrofi ventrikel kiri. Lagipula, agar selain latihan aerobik perlu pula disertai dengan latihan kekuatan dan ketahan otot yang khusus ditujukan untuk meningkatkan kemampuan toleransi G-force. Dan agar hasil penelitian ini dapat memberi informasi yang lebih mantap, maka perlu dilanjutkan dengan sebuah penelitian perkembangan yang bersifat eksperimental, yang mencakup juga penelitian mengenai program latihan fisik yang spesifik untuk seorang penerbang.

Dipresentasikan 09/1994 di Bagian Kardiologi FKUI/RSJHK

 
  Another hacked by R-S-D  
 
 
Link







   
Home | Journal Collection And News | Webmail | Profiles | Staff's List | Contact Us | Forum
2007 Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI